Pembajakan Tongkang Batu Bara di Filipina Masuki Babak Penting

Drama pembajakan kapal tongkang pengangkut batu bara Anand 12 dan kapal tunda Brahma 12 di Filipina memasuki "babak penting". Mengingat, batas waktu permintaan pembajak berupa uang tebusan 50 juta peso (sekitar Rp14,2 miliar) untuk pembebasan 10 awak kapal berkewarganegaraan Indonesia, sudah ditegaskan 8 April 2016 mendatang.

Pembajak mengancam keselamatan 10 ABK Indonesia jika tidak menuruti kemauan mereka. Media Filipina, Inquirer, Selasa (29/3/2016) melansir laporan kelompok intelijen militer Filipina di Mindanao Barat yang menyebut bahwa pria bersenjata yang menyandera 10 WNI itu sudah diketahui identitasnya. Mereka berasal dari salah satu faksi Abu Sayyaf, kelompok ekstremis Islam garis keras di Mindanao.

Selain 10 WNI, pembajak menyandera total sekitar dua lusin penumpang kapal, yang terdiri dari banyak kewarganegaraan seperti Kanada, Norwegia, Italia, China, Jepang, dan warga Filipina sendiri.

Kapal tongkang Anand 12 berlayar sejak 15 Maret 2016, dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan menuju Batangas, Filipina. Anand 12 membawa batu bara milik PT Antang Gunung Meratus sebanyak 7.500 ton bernilai sekitar US$300.000 (setara Rp3,9 miliar) menggunakan jasa kapal PT Patria Maritime Lines.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, lewat pernyataan tertulisnya, Selasa (29/03) mengungkapkan, "Kabar adanya pembajakan baru diketahui pada 26 Maret, pada saat pemilik kapal menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf.” "Kabarnya Kapal Brahma 12 telah dilepaskan dan saat ini sudah berada di tangan otoritas Filipina," lanjut Arrmanatha.

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Kolonel Laut Edi Sucipto kepada BBC Indonesia Selasa lalu, pembajakan kapal Anand 12 dan Brahma 12 terjadi di antara perairan Tawi-tawi dan Sulu, Filipina Selatan. Padahal rute tersebut adalah jalur rutin yang biasa dilalui oleh kapal-kapal dari Kalimantan ke Filipina. "Sebelumnya tidak pernah ada kejadian (pembajakan) kapal Indonesia di kawasan tersebut,” ungkap Sucipto.

Sementara Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri dan Atase Pertahanan Indonesia untuk Filipina sedang melakukan koordinasi dengan Pemerintah Filipina terkait upaya yang harus dilakukan untuk membebaskan sandera.

Share this post

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar